Rabu, 30 Maret 2011

Apakah Penting Budaya Menulis???

Pada saat tradisi lisan masih berkuasa, proses pewarisan kebudayaan dan transpormasi ilmu pengetahuan dilakukan dengan cara langsung. Artinya orang-orang yang pandai merangkai kata, para penceramah, para juru dakwah, dan sejenisnya melakukan komunikasi langsung dengan audiensnya. Maka pada saat itu, mendengar adalah cara yang paling efektif untuk mendapatkan pengetahuan dan menyerap kebudayaan yang diwariskan.
Pada saat itu orang-orang yang pandai berujar, bercerita, berorasi, dan berbagai tradisi lisan lainnya mempunyai kedudukan terhormat, karena mereka dianggap sebagai satu-satunya sumber pengetahuan dan peradaban saat itu. Sayangnya apa yang mereka sampaikan hanya bisa didengar, dipahami, dan diamalkan oleh orang-orang yang hidup sezaman dengan para juru ujar tersebut. Orang-orang yang hidup jauh setelah mereka, tidak bisa mewarisinya karena tidak ada jejak tertulis dari para pendahulunya yang bisa mereka lacak.
Kondisi di atas merupakan konsekuensi logis kalau proses transpormasi pengetahuan dan pewarisan kebudayaan hanya dilakukan melalui budaya tutur. Tidak ada jejak yang dapat diakses dan dijadikan rujukan oleh generasi selanjutnya.
Itulah sebabnya Ali bin Abi Thalib pernah berkata, “Ilmu itu ibarat binatang buruan, dan menulis adalah pengikatnya.” Artinya proses pewarisan kebudayaan dan tarnspormasi pengetahuan dengan hanya mengandalkan kekuatan memori dan ingatan manusia tanpa dibarengi kebiasaan menuliskannya dinilai rentan terhadap keterputusan informasi yang disampaikan. Hal itu terjadi karena fisik manusia mempunyai keterbatasan.
Keterputusan informasi ini tidak akan terjadi seandainya proses pewarisan dan transpormasi tersebut dibarengi dengan budaya menulis. Karena ketika terjadi ledakan sumber informasi di mana orang bisa mengakses informasi dengan sangat mudah tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu, pengetahuan dan kebudayaan yang diwariskan melalui tulisanlah yang dapat diakses.
Apa yang dianjurkan oleh Ali bin Abi Thalib diperkuat dan diperjelas oleh Hernowo, salah seorang dari sedikit penulis produktif yang cukup getol menyebarkan virus menulis. Menurutnya, setiap orang apapun profesinya punya potensi untuk menjadi penulis hebat. Caranya adalah selalu membiasakan menuliskan apa yang ia baca. Ia menyebutnya dengan istilah “Mengikat Makna”.
Oleh sebab itu budaya menulis merupakan sebuah keniscayaan yang tidak bisa ditawar dalam proses pewarisan budaya dan transpormasi pengetahuan. Dan budaya menulis suatu bangsa akan berkualitas jika kualitas budaya baca bangsa tersebut sudah terbentuk.
Yang menjadi masalah adalah Indonesia dikenal sebagai negara yang penduduknya mempunyai kebiasaan membaca yang sangat memperihatinkan. Berdasarkan hasil survei Unesco, minat baca masyarakat Indonesia paling rendah di Asean. Sementara, menurut survei yang dilakukan terhadap 39 negara di dunia, Indonesia menempati posisi ke-38. Sedangkan survei The Political and Economic Risk Country (PERC), sebuah lembaga konsultan di Singapura, pada akhir 2001, menempatkan Indonesia di urutan ke-12 dari 12 negara di Asia yang diteliti. Jika dibandingkan dengan Malaysia, dan bahkan Jepang, budaya baca kita masih rendah ketimbang mereka.
Menurut sastrawan Ajip Rosidi, masyarakat Jepang sejak usia dini (kira-kira umur dua hingga tiga tahun) telah diperkenalkan dengan bahan bacaan buku. Tak heran jika bangsa Jepang dijuluki sebagai bangsa yang gemar baca buku. Bahkan ada anekdot, “Kalau orang Jepang tidur sambil membaca, sedangkan orang Indonesia membaca sambil tidur.”
Artinya, bagi orang Jepang, sesantai apa pun kegiatan yang mereka tengah tekuni, membaca tetap menjadi suatu kebutuhan layaknya kebutuhan makan dan minum sehari-hari. Namun, sebaliknya, bagi orang Indonesia, sesantai apa pun kegiatan yang mereka tekuni, membaca belum dijadikan suatu kebutuhan. Pendek kata, rendahnya budaya baca buku masyarakat perlu dianggap sebagai persoalan serius dan segera dicarikan solusinya.
Seakan tidak ingin menjadi kambing hitam, sekolah sebagai lembaga yang bertanggung jawab secara formal terhadap pembentukan budaya baca tulis anak mulai berusaha membuat kurikulum yang relatif mencerdaskan. Hal ini dibuktikan dengan kurikulum Bahasa Indonesia yang memberikan kebebasan kepada anak untuk mengekspresikan kemampuan berbahasa mereka. Mereka tidak lagi dijejali dengan materi ketatabahasaan yang kaku dan membosankan. Sekarang mereka sudah merasakan asyiknya meresensi sebuah buku, nikmatnya bercerita di depan orang banyak, dan sebagainya.
Membaca dan menulis, sebenarnya sudah menjadi kiat kehidupan modern sejak Plato (428 - 347 SM) mendirikan Academus (akademi). Plato adalah murid Socrates (470 - 399 SM). Socrates adalah seorang filsuf yang mempunyai pengaruh paling besar terhadap pemikiran Eropa, yang kemudian dihukum mati minum racun cemara oleh pengadilan Athena karena mempertahankan misi filosofinya. Misi Socrates tidak akan berhasil karena segala ilmunya tidak pernah sebaris pun ditulisnya. Plato berusia 29 tahun ketika Socrates minum racun cemara. Plato menulis karya Socrates Apologi, yang semula hanya diucapkan lisan dalam bentuk dialog oleh Socrates, dan juga oleh tulisan-tulisan Plato lainnya, maka misi Socrates berhasil mempengaruhi pemikiran Eropa selama 2500 tahun ini.
Begitu pula Muhammad, nabi yang dikenal tidak bisa membaca dan menulis (ummi). Kita tidak bisa membayangkan seandainya pada saat menerima wahyu dari Allah, beliau tidak menyuruh para sahabat untuk menuliskannya. Mungkin berbagai informasi yang ada dalam al-Quran hanya bisa kita dengar saja. Tanpa bisa kita kita baca dan pahami. Untung saja pada waktu itu Rasulullah menyuruh beberapa sahabat untuk menuliskannya sehingga setelah melalui proses yang panjang dan berliku akhirnya al-Quran bisa dibukukan.
Terakhir, tanpa menafikan pentingnya budaya lisan dengan berbagai kontribusinya terhadap peradaban dunia, sudah saatnya kita membiasakan budaya menulis, agar apa yang kita lakukan pada hari ini dapat terekam untuk kemudian bisa diakses oleh generasi setelah kita.

Selasa, 29 Maret 2011

MANUSIA DAN KEADILAN

Dalam hidup dan kehidupan, setiap manusia dalam melakukan aktifitasnya pasti pernah menemukan perlakuan yang tidak adil atau bahkan sebaliknya, melakukan hal yang tidak adil. Dimana pada setiap diri manusia pasti terdapat dorongan atau keinginan untuk berbuat kebaikan “jujur”. Tetapi terkadang untuk melakukan kejujuran sangatlah tidak mudah dan selalui dibenturkan oleh permasalahan – permasalahan dan kendala yang dihadapinya yang kesemuanya disebabkan oleh berbagai sebab, seperti keadaan atau situasi, permasalahan teknis hingga bahkan sikap moral.
Dampak positif dari keadilan itu sendiri dapat membuahkan kreatifitas dan seni tingkat tinggi. Karena ketika seseorang mendapat perlakuan yang tidak adil maka orang tersebut akan mencoba untuk bertanya atau melalukan perlawanan “protes” dengan caranya sendiri. Nah… cara itulah yang dapat menimbulkan kreatifitas dan seni tingkat tinggi seperti demonstrasi, melukis, menulis dalam bentuk apabun hingga bahkan membalasnya dengan berdusta dan melakukan kecurangan.
Keadilan adalah pengakuan atas perbuatan yang seimbang, pengakuan secara kata dan sikap antara hak dan kewajiban. Setiap dari kita “manusia” memiliki itu “hak dan kewajiban”, dimana hak yang dituntut haruslah seimbang dengan kewajiban yang telah dilakukan sehingga terjalin harmonisasi dalam perwujudan keadilan itu sendiri.
Keadilan pada dasarnya merupakan sebuah kebutuhan mutlak bagi setiap manusia dibumi ini dan tidak akan mungkin dapat dipisahkan dari kehidupan. Menurut Aristoteles, keadilan akan dapat terwujud jika hal – hal yang sama diperlakukan secara sama dan sebaliknya, hal – hal yang tidak semestinya diperlakukan tidak semestinya pula. Dimana keadilan memiliki cirri antara lain ; tidak memihak, seimbang dan melihat segalanya sesuai dengan proporsinya baik secara hak dan kewajiban dan sebanding dengan moralitas. Arti moralitas disini adalah sama antara perbuatan yang dilakukan dan ganjaran yang diterimanya. Dengan kata lain keadilan itu sendiri dapat bersifat hokum.
Keadilan itu sendiri memiliki sifat yang bersebrangan dengan dusta atau kecurangan. Dimana kecurangan sangat identik dengan perbuatan yang tidak baik dan tidak jujur. Atau dengan kata lain apa yang dikatakan tidak sama dengan apa yang dilakukan.
Kecurangan pada dasarnya merupakan penyakit hati yang dapat menjadikan orang tersebut menjadi serakah, tamak, rakus, iri hati, matrealistis serta sulit untuk membedakan antara hitam dan putih lagi dan mengkesampingkan nurani dan sisi moralitas.
Ada beberapa faktor yang dapat menimbulkan kecurangan antara lain ;
1.   Faktor ekonomi. Setiap berhak hidup layah dan membahagiakan dirinya. Terkadang untuk mewujudkan hal tersebut kita sebagai mahluk lemah, tempat salah dan dosa, sangat rentan sekali dengan hal – hal pintas dalam merealisasikan apa yang kita inginkan dan pikirkan. Menghalalkan segala cara untuk mencapai sebuah tujuan semu tanpa melihat orang lain disekelilingnya.
2.   Faktor Peradaban dan Kebudayaan sangat mempengaruhi dari sikapdan mentalitas individu yang terdapat didalamnya “system kebudayaan” meski terkadang halini tidak selalu mutlak. Keadilan dan kecurangan merupakan sikap mental yang membutuhkan keberanian dan sportifitas. Pergeseran moral saat ini memicu terjadinya pergeseran nurani hamper pada setiapindividu didalamnya sehingga sangat sulit sekali untuk menentukan dan bahkan menegakan keadilan.
3.   Teknis. Hal ini juga sangat dapat menentukan arah kebijakan bahkan keadilan itu sendiri. Terkadang untuk dapat bersikapadil,kita pun mengedepankan aspek perasaan atau kekeluargaan sehingga sangat sulit sekali untuk dilakukan. Atau bahkan mempertahankan keadilan kita sendiri harus bersikap salah dan berkata bohong agar tidak melukai perasaan orang lain. Dengan kata lian kita sebagai bangsa timur yang sangat sopan dan santun.

MANUSIA DAN KEBUDAYAAN

1.    MANUSIA

Berbicara tentang manusia maka satu pertanyaan klasik yang sampai saat ini belum memperoleh jawaban yang memuaskan adalah pertanyaan tentang siapakah manusia itu. Banyak teori telah dikemukakan, di antaranya adalah pemikiran dari aliran materialisme, idealisme, realisme klasik, dan teologis.
Aliran materialisme mempunyai pemikiran bahwa materi atau zat merupakan satu-satunya kenyataan dan semua peristiwa terjadi karena proses material ini, sementara manusia juga dianggap juga ditentukan oleh proses-proses material ini.
Sedangkan aliran idealisme beranggapan bahwa jiwa adalah kenyataan yang sebenarnya. Manusia lebih dipandang sebagai makhluk kejiwaan/kerohanian. Aliran realisme klasik beranggapan bahwa jiwa adalah kenyataan yang sebenarnya. Manusia lebih dipandang sebagai makhluk kejiwaan/kerohanian, dan aliran teologis membedakan manusia dari makhluk lain karena hubungannya dengan Tuhan.
Di samping itu, beberapa ahli telah berusaha merekonstruksikan kedudukan manusia di antara makhluk lainnya. Juga berusaha membandingkan manusia dengan makhluk lainnya. Dari hasil perbandingan tersebut ditemukan bahwa semua makhluk mempunyai dorongan yang bersifat naluriah yang termuat dalam gen mereka. Sementara yang membedakan manusia dari makhluk lainnya adalah kemampuan manusia dalam hal pengetahuan dan perasaan. Pengetahuan manusia jauh lebih berkembang daripada pengetahuan makhluk lainnya, sementara melalui perasaan manusia mengembangkan eksistensi kemanusiaannya.

2.    KEBUDAYAAN

Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism.
Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic. Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.
Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.
Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.
Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.
A. Unsur-unsur
Ada beberapa pendapat ahli yang mengemukakan mengenai komponen atau unsur kebudayaan, antara lain sebagai berikut:

Melville J. Herskovits menyebutkan kebudayaan memiliki 4 unsur pokok, yaitu:
1. alat-alat teknologi
2. sistem ekonomi
3. keluarga
4. kekuasaan politik

 MANUSIA DAN KEBUDAYAAN

Antara manusia dan kebudayaan terjalin hubungan yang sangat erat, sebagaimana yang diungkapkan oleh Dick Hartoko bahwa manusia menjadi manusia merupakan kebudayaan.
Hampir semua tindakan manusia itu merupakan kebudayaan. Hanya tindakan yang sifatnya naluriah saja yang bukan merupakan kebudayaan, tetapi tindakan demikian prosentasenya sangat kecil. Tindakan yang berupa kebudayaan tersebut dibiasakan dengan cara belajar. Terdapat beberapa proses belajar kebudayaan yaitu proses internalisasi, sosialisasi dan enkulturasi.
Selanjutnya hubungan antara manusia dengan kebudayaan juga dapat dilihat dari kedudukan manusia tersebut terhadap kebudayaan. Manusia mempunyai empat kedudukan terhadap kebudayaan yaitu sebagai 1) penganut kebudayaan, 2) pembawa kebudayaan, 3) manipulator kebudayaan, dan 4) pencipta kebudayaan.
Pembentukan kebudayaan dikarenakan manusia dihadapkan pada persoalan yang meminta pemecahan dan penyelesaian. Dalam rangka survive maka manusia harus mampu memenuhi apa yang menjadi kebutuhannya sehingga manusia melakukan berbagai cara.
Hal yang dilakukan oleh manusia inilah kebudayaan. Kebudayaan yang digunakan manusia dalam menyelesaikan masalah-masalahnya bisa kita sebut sebagai way of life, yang digunakan individu sebagai pedoman dalam bertingkah laku.


Rabu, 02 Maret 2011

Batik tak Pernah Lepas dari Kehidupan Orang Jawa

BAGI orang Jawa batik tak pernah lepas dari kehidupan, sejak masih dalam kandungan ibu hingga ajal menjemput, batik selalu menyertai kehidupan manusia Jawa. Setiap pola atau corak batik tradisional selalu mengandung nilai-nilai adiluhung, terutama yang bermula dari Keraton Yogyakarta dan Surakarta. Ragam hias yang menyusun polanya selalu mempunyai arti filosofi. Lebih-lebih ragam hias yang menampilkan pengaruh agama Hindu.
”Seperti garuda yang terdiri sawat, lar dan mirong, lidah api, pohon hayat dan sebagainya,” kata Ir Toetti T Soerjanto, Kurator Museum Batik Danar Hadi Surakarta saat menguraikan pola batik, ragam hias penyusun dan arti filosofinya di depan peserta seminar ‘Pengembangan Batik Tulis Tradisional’ yang digelar Jogja Heritage Society (JHS) belum lama ini. Menurut mantan Kepala Balai Batik Yogyakarta ini, batik memiliki dua keindahan, yaitu keindahan visual dan keindahan spiritual yang ditampilkan oleh arti filosofisnya, dan ini tidak ada pada batik-batik di negara lain. Pola batik di Jawa mempunyai arti yang sakral untuk berbagai upacara, dari mitoni, kelahiran, memasuki usia dewasa, perkawinan sampai kematian.

Batik untuk upacara mitoni diperlukan enam macam kain batik dan satu macam kain lurik. Batik ini digunakan setelah upacara siraman yang mengawali upacara mitoni (tujuh bulan usia bayi dalam kandungan). Artinya, batik digunakan ketika anak manusia masih dalam kandungan. Calon ibu berganti busana sebanyak tujuh kali dengan pola batik berbeda. Antara lain Sidamulya, Sidaasih, Sidamukti, Sidaluhur, Sidadadi.
Semuanya itu mengandung arti filosofis sendiri-sendiri sesuai dengan macam batik. Selain itu juga diperlukan batik babon angrem yang melambangkan kasih sayang dan kesabaran seorang ibu. Wahyu Tumurun melambangkan permohonan agar selalu mendapatkan petunjuk dan bimbingan dari Allah SWT. Semen Rama sebagai perlambang agar anak yang dilahirkan nanti mempunyai budi pekerti luhur seperti yang dimiliki raja. ”Sedangkan kain lurik digunakan lurik pola Yuyu Sekandhang adalah lambang harapan agar si anak yang masih di dalam kandungan kelak dikaruniai rizki berlimpah, mempunyai banyak anak seperti yuyu (kepiting). Makna dari upacara mitoni ini agar calon ibu dapat melahirkan dengan mudah dan lancar, semudah pakaian berganti tujuh kali,” ujar Toetti T Soerjanto.

Batik juga menyertai kelahiran yang digunakan untuk alas yang disebut kopohan (basahan). Batik ini sudah lawas, milik nenek si bayi. Ini mengandung arti agar bayi kelak dikaruniai usia panjang seperti neneknya. Pola batik itupun mempunyai arti filosofi yang baik, sehingga kebaikan itu akan terbawa oleh bayi yang masih suci hingga dewasa nanti. Kain batik kopohan ini selanjutnya disimpan dan dirawat oleh orangtua bayi sebagai pusaka. Saat menanam ari-ari, ayah bayi mengenakan busana Jawa lengkap, kain batik latar hitam dan menggendong kendil berisi ari-ari, dengan kain batik Sidamulya, Semen Rama, Sidaasih dan lain-lain, yang disebut kain gendhongan. Itu semua mengandung makna yang baik-baik. Bagi kerabat keraton, kain gendhongan berpola Parang Rusak, melambangkan bayi itu masih trahing luhur atau keturunan bangsawan.

Kain batik juga digunakan dalam upacara memasuki usia dewasa, khusus untuk gadis dalam tarapan (pertama kali menstruasi). Setelah siraman mengenakan kain pola Grompol, lambang permohonan kebahagiaan dan kesejahteraan yang nggrompol selalu dikitari dan disukai oleh teman-temannya. Untuk pemuda, batik digunakan saat khitanan dengan mengenakan batik Parang Pamor yang melambangkan harapan agar setelah dikhitan tumbuh sebagai laki-laki yang cakap dan berbudi luhur, karena telah pecah ‘pamor’-nya.

Dalam upacara perkawinan yang merupakan peristiwa penting, batik juga berperan penting. Antara lain untuk lamaran, siraman, akad nikah dan resepsi. Pada upacara lamaran, batik yang digunakan untuk golongan luhur adalah Parang Rusak atau Parang yang lain. Bagi golongan priyayi, batik yang dikenakan pola Semen dengan latar putih. Untuk golongan kebanyakan, pola batik yang dikenakan latar hitam atau jenis Ceplokan. Pada upacara peningsetan, mengenakan batik Satrya Manah, melambangkan pria tersebut memanah hati calon istrinya. Sementara calon istri mengenakan batik pola Semen Rante yang mengandung arti sanggup diikat dalam suatu perkawinan. Tradisi ini menurut Toetti diambil dari wewarah PB IX sewaktu bertahta. Pada upacara siraman, calon mempelai putri mengenakan kain batik Wahyu Tumurun dan kemben Bangun Tulak, artinya agar kedua mempelai mendapat bimbingan dari Allah SWT dan terhindar dari marabahaya.
Orangtua mempelai mengenakan baik Nitik Cakar dengan harapan agar putra-putrinya kelak dapat mencari nafkah dengan mudah seperti ayam mengais makanan, dan tidak tergantung pada kedua orangtuanya. Dalam upacara ini juga bisa mengenakan batik Wora-wari Tumpuk, melambangkan rezeki yang berlimpah-limpah atau grompol. Menyusul upacara siraman membuat riasan awal paes dan calon mempelai putri mengenakan kain Sawitan yang terdiri kain Kembangan yang sama, baik untuk kebaya maupun kainnya. Kain Kembangan merupakan wastra yang polanya dibuat dengan jahitan-jahitan atau ikatan-ikatan (jumputan) sebagai perintangnya dan kemudian dicelup. Makna kain Sawitan adalah bersih lahir maupun batin, suatu pernyataan keikhlasan untuk mengarungi hidup berumah tangga.

Pada upacara midadareni, yaitu malam sebelum keesokan harinya dilaksanakan upacara akad nikah, calon pengantin pria yang datang berkunjung ke rumah calon mertuanya mengenakan busana Jawi Jangkep, dengan kain batik berpola Semen Rama atau Satriya Wibawa (bagi Kraton Surakarta). Sedangkan untuk masyarakat pada umumnya, kain yang dikenakan adalah Wahyu Tumurun. Untuk akad nikah, calon pria mengenakan batik dengan pola yang berawal dengan Sida. Misalnya Sidamulya, Sidamukti, Sidaluhur tanpa prada bila berpakaian Jawi Jangkep atau Lengenharjan. Makna filosofis Sidamulya, dengan harapan agar hidupnya kelak mulia. Sidaluhur, dapat mencapai kedudukan tinggi jadi panutan masyarakat. Sidaasih, agar dalam hidupnya mendapat kasih sayang dari sesama. Sida-mukti, mempunyai harapan dalam hi-dup mencapai kebahagiaan lahir batin dan mendapat kedudukan terhormat.
Pada busana basahan, dodot yang dikenakan dapat berpola Bondhet yang bermakna bundhet, digambarkan dengan dua tumbuhan yang menjalar dan bertemu ujung-ujungnya, berupa lung-lungan yang melambangkan dua insan yang selalu bergandengan dalam hidup berumah tangga. Busana yang dikenakan mempelai wanita kain Sebagen (Chintz) yang dipakai sebagai atasan maupun bawahan yang bermakna se-perti kain Kembangan saat dihalub-halubi pada malam midadareni.

Acara resepsi yang selalu mengiringi upacara akad nikah, menghadirkan pola-pola batik yang penuh makna, baik bagi kedua mempelai maupun orangtua keduanya. Bagi kedua mempelai, digunakan batik dengan pola-pola saat melaksanakan akad nikah. Bagi kedua orangtua mempelai wanita dipakai batik berpola Truntum atau pola-pola lain yang sama dengan pola yang dikenakan besan. Selain pola-pola batik tersebut bisa digunakan pola Nagaraja atau Srikaton. Nagaraja melambangkan harapan agar dalam kehidupan rumah tangga memperoleh ketentraman, sedangkan Srikaton merupakan pola jenis Lung-lungan ini melambangkan kelebihan seseorang, bahwa pemakainya tampak kelebihannya dalam pandangan orang lain. Di kalangan kerabat Pura Mangkunegaran, pada saat resepsi biasanya pola-pola batik yang digunakan Wahyu Tumurun dan Ratu Ratih.

Batik juga menyertai kehidupan manusia sampai ajal tiba, yakni pada saat dilaksanakan upacara-upacara adat Jawa. Sebelum dimasukkan dalam keranda, jenazah selalu ditutup dengan kain batik berpola Sidamukti, Sidamulya, Sidaluhur, Semen Rama dan Kawung yang bermakna kembali ke alam suwung atau Slobok.  Selain itu juga digunakan kain batik yang merupakan kesayangan almarhum atau almarhumah atau kain batik yang semasa hidupnya belum sempat dipakai. Bagi pelayat, biasanya mengenakan kain batik pola Slobok dari kata lobok atau longgar. Hal itu mengandung makna agar yang meninggal mendapat jalan lapang sedangkan yang ditinggalkan melepaskan dengan hati yang longgar atau ikhlas. Pola batik Buket Pakis ciptaan Pura Mangkunegaran yang dipengaruhi budaya Belanda yang selalu menggunakan karangan bunga dengan daun pakis sering juga dikenakan pada acara melayat, sebagai pernyataan ikut bela sungkawa.

Pola batik digunakan dalam Ruwatan, untuk menghilangkan takdir yang tidak baik bagi manusia sukerta. Misalnya anak tunggal, dua anak laki-laki semua atau perempuan semua dan sebagainya. Mereka harus diruwat konon kalau tidak, bagi yang percaya akan menjadi mangsa Bethara Kala atau mendatangkan musibah bagi keluarga. Biasanya ruwatan dilaksanakan dengan tradisi wayangan dan di atas kelir wayang disampirkan 9 potong kain batik. ”Pola batik tersebut Parang Rusak, Semen Latar Putih, Semen Latar Hitam, Ceplok, Kawung, Krambil Secukil, Tambal Miring, Slobok dan Poleng Bang Bintulu. Pola Batik yang selalu harus tersedia Poleng Bang Bintulu, Parang Rusak, Kawung dan Krambil Secukil,” kata Ir Toeti T Soerjanto.