Senin, 09 Mei 2011

Batik

Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budayaIndonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Perempuan-perempuan Jawa di masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam design batiksebagai mata pencaharian, sehingga di masa lalu pekerjaan design batik adalah pekerjaan eksklusif perempuan sampai ditemukannya “Batik Cap” yang memungkinkan masuknya laki-laki ke dalam bidang ini. Ada beberapa pengecualian bagi fenomena ini, yaitu batik pesisir yang memiliki garis maskulin seperti yang bisa dilihat pada corak “Mega Mendung”, dimana di beberapa daerah pesisir pekerjaan membatik baju batik adalah lazim bagi kaum lelaki.
Ragam corak dan warna baju batik dipengaruhi oleh berbagai pengaruh asing. Awalnya, batikdress design memiliki ragam corak dan warna yang terbatas, dan beberapa corak hanya boleh dipakai oleh kalangan tertentu. Namun batik pesisir menyerap berbagai pengaruh luar, seperti para pedagang asing dan juga pada akhirnya, para penjajah. Warna-warna cerah seperti merah dipopulerkan oleh orang Tionghoa, yang juga mempopulerkan corak phoenix. Bangsa penjajah Eropa juga mengambil minat kepada batik, dan hasilnya adalah corak bebungaan yang sebelumnya tidak dikenal (seperti bunga tulip) dan juga benda-benda yang dibawa oleh penjajah (gedung atau kereta kuda), termasuk juga warna-warna kesukaan mereka seperti warna biru. Batik tradisonal tetap mempertahankan coraknya, dan masih dipakai dalam upacara-upacara adat, karena biasanya masing-masing corak memiliki perlambangan masing-masing.
Teknik membatik telah dikenal sejak ribuan tahun yang silam. Tidak ada keterangan sejarah yang cukup jelas tentang asal usul batik. Ada yang menduga teknik ini berasal dari bangsa Sumeria, kemudian dikembangkan di Jawa setelah dibawa oleh para pedagang India. Saat ini batik bisa ditemukan di banyak negara seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, India, Sri Lanka, dan Iran. Selain di Asia, batik juga sangat populer di beberapa negara di benua Afrika. Walaupun demikian, batik yang sangat terkenal di dunia adalah batik yang berasal dariIndonesia, terutama dari Jawa.

Kekhasan Batik Pekalongan


batik pekalongan

Batik Pekalongan memang mengalami dinamisasi yang cukup tinggi, akan tetapi hal ini tidak membuatnya kehilangan kekhasan. Ada ciri-ciri khusus dari batik Pekalongan, yakni gambaran motif serta pewarnaannya yang bersifat naturalis.
Salah satu genre batik yang pernah berkembang di Pekalongan adalah batik Encim. Batik ini dikembangkan oleh para pengusaha Cina, dan saat itu cukup digemari oleh orang-orang Belanda. Sementara, batik Pekalongan yang disukai konsumen pribumi, adalah batik yang mempunyai pola warna yang lebih semarak.
Batik Pekalongan memiliki corak serta komposisi warna yang lebih kaya. Motifnya kebanyakan bernuansa Pesisir. Misalnya, motif bunga laut dan bintang laut.
Didaerah Pekalongan dan sekitarnya – Pemalang -kaliwungu, Batang – membatik boleh dikatakan mata pencaharian pokok bagi penduduknya. 
Menurut gaya dan seleranya, serta dilihat dari segi ragam hiasnyamaupun tata warnanya, batik daerah Pekalongan dapat digolongkan dalam 3 golongan :
1. Batik Encim, yang dikenal dengan tatawarna khas Cina, dan sering mengingatkan pada benda-benda porselin Cina. Batik encim Pekalongan tampaknya condong pada tata warna porselin famille rose, famille verte dan sebagainya
2. Kain batik Pekalongan yang bergaya dan berselerakan Belanda, antara lain batik dari juragan batik E. van Zuylen, Metz, Yans dan beberapa nama lagi. Namun yang sangat terkenal adalah batik Van Zuylen. Kebanyakan batik yang bergaya belanda ini umumnya merupakan kainsarung. Mungkin hal ini dikarenakan kain sarung lebih mudah pemakainnya bagi kaum pendatang. Dalam kelompok batik ini terlihat ragam hias buketan yang biasanya terdiri dari flora yang tumbuh dinegeri Belanda seperti bunga krisan, buah anggur, dan rangkaian bunga Eropa. 
3. Disamping batik yang bergaya Cina dan Belanda ini ada pula batik yang berselerakan pribumi. Batik bergaya pribumi ini umunya sangat cerah dan meriah dalam tata warnanya. Tak jarang pada sehelai kain batik dijumpai 8 warna yang sangat berani, tetapi sangat menakjubkan serta secara keseluruhan sangat menarik. Ragam hiasnya sangat bebas, meskipun disini banyak terlihat ragam hias tradisional dari Solo-Yogya seperti ragam hias lar,parang,meru dan lain-lain yang telah mengalami sedikit perubahan dalam gayanya.



Museum Batik Di Pekalongn


Museum merupakan salah satu lembaga yang memiliki fungsi melakukan pewarisan budaya. Museum Batik seharusnya dapat menjalankan fungsinya dalam pewarisan budaya khususnya kerajinan batik bagi masyarakat. Bertolak dari pemahaman itu maka Museum Batik di Pekalongan seharusnya dapat pula berfungsi sebagai sarana pewarisan budaya kerajinan batik bagi pelajar dan masyarakat di sekitarnya. Seiring dengan pemahaman tersebut perlu di pelajari fungsi museum batik pekalongan sebagai sarana pewarisan budaya kerajinan batik bagi pelajar di Pekalongan.
Permasalahan yang dipelajari adalah:
1) Bagaimana potensi Museum Batik Pekalongan sebagai sarana pewarisan budaya kerajinan batik bagi pelajar?
2) Bagaimana fungsi Museum Batik Pekalongan sebagai sarana pewarisan budaya kerajinan batik bagi pelajar di Pekalongan?
3) Apa implikasi yang muncul dengan keberadaan Museum Batik Pekalongan sebagai sarana pewarisan budaya kerajinan batik bagi pelajar?
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap, mengetahui, dan menjelaskan tentang:
1) Potensi Museum Batik Pekalongan sebagai sarana pewarisan budaya kerajinan batik bagi pelajar,
2) Fungsi Museum Batik Pekalongan sebagai sarana pewarisan budaya kerajinan batik bagi pelajar di Pekalongan,
3) Implikasi yang muncul dengan kebaradaan Museum Batik Pekalongan sebagai sarana pewarisan budaya kerajinan batik bagi pelajar. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi dan wawancara. Subyek dari penelitian ini adalah pihak pengelola museum yang mengelola Museum Batik Pekalongan dan para pelajar serta guru SD serta masyarakat yang datang ke museum. Teknik pemeriksaan keabsahan data menggunakan teknik triangulasi. Analisis data menggunakan analisis data kualitatif Miles dan Huberman yang digabungkan dengan analisis pendekatan fungsionalisme.
            Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa:
1) museum batik Pekalongan berpotensi menjadi sarana pembelajaran membatik bagi pelajar maupun masyarakat yang ingin mempelajari batik dan menjadi pusat informasi dan referensi beragam motif batik baik bagi pelajar, pengrajin batik maupun masyarakat yang ingin mempelajari batik.
2) Fungsi museum batik Pekalongan sebagai sarana pewaisan budaya bagi pelajar dan masyarakat diantaranya adalah melakukan fungsi pengenalan, fungsi pameran, fungsi konservasi dan fungsi pendidikan bagi pelajar dan masyarakat.
3) Keberadaan museum batik Pekalongan memunculkan beberapa implikasi antara lain menambah pengetahuan, minat, dan keterampilan membatik bagi para pelajar di Pekalongan.
Simpulan penelitian ini adalah Museum Batik Pekalongan berfungsi sebagai sarana pewarisan budaya dan sarana pembelajaran batik bagi pelajar, serta bagaimana para pelajar memanfaatkan fungsi museum tersebut. Saran bagi pihak pengelola Museum Batik Pekalongan agar lebih memperhatikan perawatan koleksi kain batik yang telah dimiliki oleh museum sehingga keberadaannya dapat terus dilestarikan, dan lebih meningkatkan kerjasama dengan sekolah- sekolah di Pekalongan untuk mengenalkan batik pada siswa serta mempromosikan kunjungan ke museum pada sekolah-sekolah yang belum membawa siswa-siswinya untuk memanfaatkan dan mengikuti workshop batik di Museum Batik Pekalongan.